Wednesday, 11 April 2018 0 comments

Tuang Pikiran

Boleh  jadi ini yang ketiga kalinya bagi saya menulis sebuah manuskrip hasil penelitian yang hendak di publikasikan melalui beberapa tahapan peer review journal. tapi tetap saja, jari-jari tangan dan otak ini belum terlalu terbiasa untuk menumpahkan ide-ide, mengkonversikannya menjadi padanan alur cerita yang menarik, yang saling bersambung pada tiap-tiap spasi paragraf sehingga menghasilkan draft artikel yang mudah difahami mengenai apa dan bagaimana hasil penelitian ini mampu ikut berkontribusi membentuk bangunan ilmu pengetahuan. terlebih di prosesnya, jika sudah harus memulai untuk mengarang bebas supaya introduction part bisa tidak hanya asal terisi penuh, namun mampu menyampaikan pondasi argumen yang relevan hingga pembaca mengamini bahwa penelitian ini memberikan signifikansi melalui kebaruan yang ditawarkan terhadap perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan maka, disitulah letak tantangannya bermula. permasalahannya adalah, wawasan saya diuji betul apakah mengetahui state-of the art dari bidang yang hendak kita tawarkan solusi dari permasalahan yang muncul bidang tersebut. tidak berhenti disitu, saya pun dituntut memahami semua konsep yang ada, yang memang kita harus faham, karena jika kita tidak memahaminya maka kita tidak faham. naon

pernah dengar istilah teko hanya akan mengeluarkan isi teko?

adagium yang sangat pas menggambarkan bagaimana proses kreatif dalam menulis (secara umum) bisa dimulai. terkadang kita berhenti dari ketikan-ketikan jari di keyboard, hanya karena kita sudah tidak tahu lagi akan membahas apa, tidak tahu lagi hendak menceritakan apa. meski memang masih banyak alasan lain yang memaksa kita menghentikan ketikan jari ini, sebut saja sakit perut perlu ke kamar mandi, masak indomie atau karena jualan sari mie. naon

tapi tak bisa dipungkiri, asupan-asupan informasi bernutrisi yang masuk ke kepala saya yang berhubungan dengan fondasi ilmiah dari riset yang saya tekuni, itulah bekal andalan satu-satunya ketika hendak menulis introduction part dari manuskrip yang ingin segera saya selesaikan ini (menulis secara umum). jika tak pernah ada asupan bergizi, maka tak ada keluaran yang berkualitas, argumen yang ber-nas, yang tersisa hanya kumpulan berbaris-baris kalimat yang sengaja dideretkan agar supaya tulisan terlihat penuh. dagingnya dikit, tulang semua.

ini baru berbicara bab pembuka, belum lagi bab-bab yang lain yang memang mengharuskan kita menghadirkan kecermelangan pikiran dalam memadu-padankan wawasan yang ada demi memahami fenomena yang terjadi dari hasil penelitian yang hendak di presentasikan dalam sekumpulan gambar dan berbait-bait tulisan. 

--karena saya mau cape, biar bisa udahan nulisnya--

jadi, apapun itu bentuknya..jika hendak berkarya, menghasilkan ekspresi perasaan yang memiliki nilai tinggi baik dari perspektif ilmu pengetahuan ataupun moral, maka kita perlu asupan bergizi sebagai bekal yang bisa kita olah dan proses sehingga menghasilkan energi yang cukup agar kita mampu menghasilkan sesuatu. tidak berhenti karena sudah tidak tahu, tidak berhenti karena sudah tidak bisa. semakin banyak kita tahu, setidaknya semakin banyak peluru yang bisa kita siapkan jika sesekali itu dibutuhkan.

hindari sesuatu yang jelas-jelas tidak jelas kebermanfaatannya seperti HOAX, narkoba dan kang junaedi!


WPI-MANA (NIMS)- 11 April 2018 jam 9.28 P.M 
Wednesday, 7 February 2018 0 comments

Check Point Imaji

ketika kita berproses, maka check point2 dari panjangnya proses yang kita lalui adalah suatu kebutuhan. Mungkin, bisa kita menjadi layaknya seorang pelari marathon yang memiliki napas panjang dan tidak mudah terengah-engah ketika berusaha mencapai garis akhir di track yang panjang dengan ujung tak terlihat, pangkal tak terbayang. Tapi dengan konsistensi dan persistensi yang kita bangun dengan mencipta check point imaji, boleh jadi daya tahan kita jauh lebih lama, jarak tempuh kita jauh lebih panjang, capaian kita jauh lebih gemilang. meski perjalanan yang hendak di tempuh amat sangat panjang. 

Dan hari ini, adalah check point kesekian dalam jejak perjalanan hidup saya.

(gambar sebelum final presentation)

hanya agar saya mau siap untuk menuju check point selanjutnya, check point yang saya sudah harus tau bagaimana harus menuju kesana dan berapa lama estimasi waktu yang saya perlukan menuju kesana. sebetulnya cukup banyak parameter lain yang saya perlu invetarisir sebagai bekal perjalanan, tapi saya sedang tidak mau rajin menuliskannya saja. maaf ya

Ya setidaknya kita semua merasa faham meskipun belum tentu. Bahwa jarak panjang perjalanan, bisa kita bagi-bagi menjadi jarak pendek semau kita, asal kita mau saja. 

lihat saja si duyeh, dia bisa manjat pohon.
lihat itu si domo, dia bahkan bisa berenang.
saya salut dengan mereka, yang bahkan saya sendiripun tidak tahu mereka siapa.

ini sih hanya sekedar cara umum yang sudah barang tentu diketahui oleh orang-orang yang berakal. 

sudah ah, cape

berkah untuk kita semua..aamiin
Friday, 18 August 2017 3 comments

Tumben Beli Anggur

kecenderungan seseorang dalam hal dominasi antara otak kiri dan kanannya dalam beraktivitas sangatlah tergantung kepada asupan gizi otak yang dia suplai. bukan berarti melulu mengenai makanan ya! melainkan berbagai hal yang membuat otak beraktivitas, terbiasa menyerap informasi yang acak serta terlatih dalam memproses informasi yang masuk, baik dalam bentuk audio, visual maupun gabungan dari keduanya, audio-visual. terlalu banyak terpapar dengan hal-hal yang beraroma faktual, angka-angka, sistematis, runut serta kadang hanya hitam dan putih, membuat dominasi otak kiri terhadap otak kanan menjadi semakin besar, dan itu kadang tercermin dalam bagaimana kita bersikap dan merespon hal-hal apa saja yang mengenai diri kita. begitupun sebaliknya, ketika lingkungan kita mendorong dan memfasilitasi kita untuk sering bercengkrama serta bersinggungan dengan hal-hal yang sangat berwarna, penuh dengan daya khayal imajinasi serta kreatifitas, maka pada saat itu pula otak kanan kita mendapatkan pasokan gizi yang sangat memadai untuk bisa berkembang dan menunjukkan dominasinya terhadap otak kiri.

lalu, apa superioritas satu diatas yang lainnya merupakan suatu keuntungan yang sangat signifikan?

nanti deh dijawabnya.

karena sebenarnya, di postingan ini saya hanya ingin bercerita bahwa hari ini kami mendapatkan anggur murah yang dijual di warung sederhana di dekat mesjid sepulang Jumatan.

musim panas tahun ini memang cukup unik karena libur musim panasnya diguyur hujan selama 3 hari berturut-turut dan bisa jadi berhasil menggagalkan rencana liburan mereka-mereka yang berniat untuk liburan diliburan musim panas ini. Tapi hal itu tak terlalu berpengaruh dengan musim panen kebun anggur di dekat mesjid Tsukuba. meski cuaca kadang mendung, tiba-tiba hujan lalu kemudian panas yang tak tertahankan. kebun angggur ini tetap berhasil panen menghasilkan bapak-ibu penjual anggur yang ramah sekali. mungkin karena anggurnya berlimpah. yang menarik dari kebun anggur disini adalah, setiap batang pohon anggur mampu menghasilkan anggur. cukup mengejutkan bukan?

saat kami menghampiri dan mecoba dengan sepenuh hati untuk membeli anggur-anggur hasil panen tersebut, bapak-ibu penjual yang ramah ini alhamdulillah mengerti maksud kedatangan kami. dan kami pun diterima dengan baik oleh mereka. pasalnya, saya sendiri nggak bisa bahasa Jepang dan sepertinya bapak-ibu penjual agak kesulitan  menggunakan bahasa inggris. sehingga bahasa yang kami gunakan adalah bahasa persatuan.

setelah lama berbincang entah kemana arah dan mengutarakan bahwa kami hendak membeli 5 paket anggur yang ditawarkan, dengan baik hatinya mereka memberi kami bonus berupa anggur. wah sungguh baik hati sekali bapak-ibu penjual anggur ini.kami pun mendoakan semoga beliau-beliau mampu menjadi panutan bagi anak-cucunya kelak dan semoga pohon anggurnya senantiasa berbuah anggur.

begini penampakan anggur yang kami beli dengan patungan ini. benar-benar sangat anggur bukan?

 

dan ini penampilan bapak-ibu penjual yang sangat ramah dan baik hati ini.
mereka benar-benar mirip orang jepang.


maaf saya lupa nanya nama bapak dan ibu nya. mudah-mudahan lain kali mereka ingat.

oke.

lain kali, saya share lagi hal-hal menarik yang saya jumpai di Tsukuba ini.
biar otak kirinya nggak terlalu mendominasi!!

salam,

Tsukuba, 170818

Thursday, 15 June 2017 0 comments

Mungkin itu Kita


Leiden is lijden ~ memimpin adalah menderita

H. Agus Salim. sosok hebat yang memiliki kemampuan poliglot dengan penguasaan (setidaknya) 9 bahasa asing; Alim yang kritis; garda terdepan pembela kedudukan Indonesia di mata dunia; Grand Old Man, begitu Bung Karno menjulukinya; dwi tunggal bersama H.O.S Tjokroaminoto; orator ulung, bahkan mahsyur sekali kisahnya yang cerdas dan halus saat melakukan serangan balik terhadap hadirin rapat yang mengembik seperti kambing saat ia berpidato, mereka bermaksud mengolok-olok dirinya; perumus dasar negara yang hidupnya tidak berlebih dalam masalah harta, dari gang becek ke gang becek lainnya, dari kontrakan kecil ke kontrakan kecil lainnya, kurang lebih begitulah hidupnya, bahkan dalam catatannya, Prof. Schermerhon berkata bahwa selama hidup, kelemahan H. Agus Salim hanya satu, yakni hidupnya melarat. 

sosok cerdas ini lahir di keluarga dengan orang tua yang memiliki kedudukan, membuat ia berkesempatan menerima pendidikan. bahkan cemerlangnya ia, telah ia perlihatkan pada masa sekolah, kepala sekolahnya di Europes Largere School sangat tertarik dengan kecerdikan yang H. Agus Salim kecil tunjukkan. Selesai dengan seluruh jenjang pendidikan yang ia tempuh, ia bekerja di lingkungan pemerintah Belanda. sehingga tak ada alasan yang menyertainya untuk tidak bergelimang harta. sehingga baginya, hidup serba ada bukanlah tak mampu, beliau memilih untuk tidak mau!

Leiden is Lijden - Memimpin adalah menderita, begitulah M. Roem menuliskan dalam catatannya meski Kasman lah yang menginspirasinya. 
Jalan pemimpin bukanlah jalan yang mudah, memimpin adalah jalan yang menderita. H. Agus Salim sangat berhasil menginspirasi Bangsa Indonesia melalui jalan hidup yang dipilihnya. Menginspirasi kaum muda yang tengah berjuang, meski perjuangannya barulah sebatas bagaimana bisa mengatur waktu, agar manfaat dari hidupnya tak sekedar untuk "saya" namun untuk "dia" juga "mereka". Sungguh, belum seujung kuku penderitaan Bapak Bangsa. 

Maka, mari bergegas, tak usah banyak mengeluh dan meminta, memimpin itu menderita, dan itu semua ada di pundak kita. yang merasa sebagai generasi penerus bangsa.

Tsukuba, 2017-04-02 02.30



Wednesday, 14 June 2017 1 comments

Cerita-nya

saat mengayuh sepeda dalam perjalanan pulang, tiba-tiba sekelebat ingatan muncul. kuatnya efek dari udara dingin malam ini berhasil mendistraksi apa yang sebenarnya sedang ku lakukan pada saat itu, mencipta banyak genangan kenangan di kepala, membuat bayang-bayang ingatan yang acak terus berputar-putar di otak. 

agak aneh memang udara malam ini, tak seharusnya sedingin ini. dingin tak semestinya muncul lagi, penghangat tak seharusnya terpasang lagi. untuk musim ini. 

lalu ingatan tentang masa-masa itu muncul tiba-tiba. 

kurang lebih 6 tahun lalu, tepatnya di sekitar bulan juni-juli yang bertepatan dengan bulan Ramadhan kala itu. 

kisah mengenai kelakuan ajaib seorang sahabat  yang begitu antusias untuk berbagi rasa bahagia yang ia punya, berbagi apa yang ia miliki, meski tak banyak, meski tak seberapa. dialah sosok yang selalu kami andalkan, sosok yang selalu mampu menjadi turbin energi pendorong bagi sahabatnya ketika redup, sekaligus menjadi lilin yang yang selalu bersedia berbagi cahaya, meski ia meleleh dan habis.

pukul 16.00 dia sudah bersiap dengan semua yang dia butuhkan.
kertas bungkus nasi, karet gelang atau hekter (atau mungkin keduanya jika saat itu dia punya), lalu plastik kantong kresek. 
itulah peralatan sederhana dan murah yang biasa ia beli di warung kecil di depan tempat ia tinggal selama 2 tahun terakhir ini. 
ia beralih ke yang lain setelah ia pastikan bahwa semua tersedia. sekitar 2 jam menuju adzan maghrib untuk berbuka. "sudah saatnya memasak nasi" begitu pikirnya. rice cooker pembelian ibunya saat pertama kali ia menginjakkan kaki di kota kecil ini menjadi satu-satunya alat masak proper yang ada di kamar kecil miliknya. sisanya hanyalah termos plastik pemanas bertenaga listrik yang katanya bisa dibuat untuk memasak mie instant, meski entahlah itu sehat atau tidak, apa jadinya plastik yang terkena kepingan logam panas karena diberi energi listrik?? sungguh aneh.
namun, meski hanya ada rice cooker itu, baginya lebih dari cukup sebagai modal berbagi kebahagiaan dengan mereka-mereka yang ia inginkan untuk dapat merasakan bahagia yang ia rasa. tak butuh lama, setengah jam berlalu, rice cooker mulai mengepul, nasi sudah cukup masak.

ia pergi ke warung makan murah yang telah menjadi tempat favoritnya semenjak ia tahu ada warung semurah ini di sekitar tempat ia tinggal. bayangkan saja, kau bisa dapatkan sebungkus penuh sayur tumis yang kau sendok sendiri hanya dengan mengeluarkan uang 1500 perak. BBM pada saat itu masih sekitar 5000 rupiah. 
disana ia membeli sayur tumis, tempe dan sedikit kuah ayam kecap. sebenarnya porsi yang sangat banyak yang ia ambil, tapi selalu saja, bapak pemilik warung mematok harga yang keterlaluan murah untuk makanan sebanyak itu. mungkin bapak sudah tak memikirkan untung rugi dalam berdagang. yang penting ibadah, mungkin begitu yang ada di benak bapak. semoga bapak dan keluarga mendapat keberkahan dari Allah.

pulang ke rumah, ia mulai membagi 3 porsi makanan yang ia beli, satu untuknya, 2 lagi untuk entahlah. lalu ia membungkus 2 kepal nasi seukuran porsi makan bapak-bapak pekerja berat. ia rapihkan dan masukkan ke kantong kresek 2 porsi lauk dan 2 bungkus nasi berukuran besar.

waktu-waktu sore di bulan Ramadhan adalah waktu dimana mahasiswa-mahasiwi berlalu-lalang kesana kemari, bergerombol-gerombol, memadati jalanan-jalanan, menghabiskan waktu sore hingga adzan maghrib tiba tidak terasa. namun beda dengan sahabatku ini, dengan setelan yang seadanya,  tas selendang bermerek yang ia dapat dari diskon besar-besaran serta sendal gunung yang selalu jadi favoritnya, bahkan sempat satu waktu ia kehilangan sendal gunung itu, lalu esoknya, ia bobol tabungannya yang sedikit untuk membeli sendal gunung yang sama, persis, identik dengan sendal yang hilang. boleh dibilang, semacam obsesi mungkin.  dia pergi keluar rumah menuju ke entahlah. karena tujuannya memang bukanlah suatu tempat. yang dia cari adalah orang. orang yang kebingungan hari ini hendak makan apa, kebingungan bukan karena saking banyaknya pilihan menu jajanan makanan yang tersedia, namun karena tak mampu mereka membelinya. 

5 menit ia berjalan kaki, 5 menit itu pula matanya cukup awas memandang area di sekitarnya, siapa tau ia menemukan apa yang ia mau. pucuk dicinta, semuanya tiba, tak butuh lama ia menemukan sosok ibu tua renta yang menggendong anak. Ia berselendangkan sarung kumal dan bersila di atas koran entah terbitan kapan. Ia menghampirinya dengan seolah tak hendak menghampirinya. baginya, hina jika tingkahnya menarik perhatian orang. "Bu ini alhamdulillah sedikit rezeki untuk buka nya ibu dan adek, mudah-mudahan barokah" begitu ucapnya dengan suara amat pelan namun sangat tergesa. bersamaan dengan diserahkannya kantong keresek yang ia bawa. "aduh nuhun pisan cep, mugia kagentosan kunu langkung2" sambil hampir mencium tangan sahabatku ini. namun ia mengelak. tak pantas baginya mendapat penghormatan sejauh itu dari makhluk mulia yang Allah letakkan syurga di telapak kakinya. "aamiin bu" sambil ia pergi terburu-buru.

entah perasaan semacam apa yang ia rasakan di saat itu. 

yang jelas, bahagia yang ia punya, tiba-tiba termultiplikasi oleh senyum bahagia dari mereka.

sepanjang perjalanan pulang, senyum yang menahan tangis bahagia tergambar jelas di rona mukanya.

Aku memberi, agar Allah mampukan aku untuk memberi lebih banyak..

begitulah katanya cara ia berbahagia.



Tsukuba, 2017-06-15 02.02
source: Gambar








Sunday, 14 May 2017 2 comments

Kini

Karena Kita Ada maka dari Kitalah Semua Bermula

"ada-ada saja cara Allah menunjukkan kasih sayang kepada hambanya", begitu celoteh seorang bodoh yang baru saja menyadari kesalahan yang baru saja dibuatnya. kesalahan yang mungkin dengan sukses menorehkan kenangan tidak menyenangkan bagi orang lain yang ada di sekitarnya di kala itu. 

Memang benar bahwa sikap kita yang berantakan, ucapan kita yang menjengkelkan, tingkah kita yang urakan, kita lah yang memiliki kuasa penuh diatas semuanya. namun di sisi lain harus kita fahami betul bahwa boleh jadi bagian diri kita yang terekspresikan kepada dunia luar, tanpa kita sadari atau disadari secara penuh, akan bertransformasi menjadi sumber kebaikan yang nilai kebaikannya akan terus berantai kepada sesiapa saja diluar sana yang bahkan tak tahu dimana pangkal sumber itu berasal, persis seperti reaksi berantai yang tak bertepi yang diinduksi oleh proton ketika mengenai suatu inti. panjang, terus-terusan dan tak berhenti.

Bisa jadi, sesuatu yang bersumber dari diri kita bertransfomasi menjadi sumber keburukan yang nilai keburukannya akan terus selalu mengalir ke diri kita, meski kita tak menyadarinya, meski kita tak menghendakinya, meski kita tak meniatkannya. maka, perlulah diri ini selalu menjaga apa-apa yang akan bersumber dari diri kita merupakan sumber kebaikan, inspirasi, kesenangan dan tentu kerdihoan dari Allah yang maha memberi ampunan.

Mencicipi ruang yang Allah sediakan bagi kita lalu berbagi dengan manusia lainnya, memaksa kita untuk mampu menahan diri tidak menjadikan ruang yang ada menjadi hanya sebatas ruang yang tak memiliki rasa, atau lebih-lebih malah menjadikan ruang itu menjadi ruang yang tak satu orangpun enggan berada disana.

Akan menyenangkan jika setiap yang keluar dari masing-masing manusia adalah kebaikan, dan akan sangat menjengkelkan jika setiap apa-apa yang terpancarkan merupakan suatu keburukan. bukan karena ruangannya menjadi gelap, pengap dan lembab. karena bahkan lebih dari itu. boleh jadi keburukan yang tak sengaja bersumber dari diri kita, pada saat itu, tepat mengarah di inti hati seseorang yang lain, seperti paku yang tepat tertancap di barisan pagar halaman. sangat mudah untuk mencabutnya lagi, namun bekasnya sulit untuk ditutupi, akan selalu terlihat. menancap, dalam, dan menyebalkan.



maka, akan selalu tersedia pilihan lain bagi kita yang mau.
tidak menjadi sumber keburukan, melainkan berikhtiar menjadi sumber kebaikan, oase inspirasi ditengah padang gersang, pemantik semangat bagi sumbu perjuangan, penyala cahaya dikala gelap gulita atau pembuka jalan di belantara. agar nilai kebaikan yang engkau miliki, menjadi tak hanya bagi dirimu sendiri, namun bagi dia juga mereka.

*Tsukuba, 2017-05-15 00.34

image source: lilin 
Tuesday, 8 March 2016 0 comments

Merekalah orang-orang hebat itu

~ Segerak niat dan amal ini tak hanya mampu membekas di bumi, ia pun mampu menggetarkan langit dan seisinya~

di zaman yang serba terkoneksi dengan internet, zaman dimana generasi Z mulai mendominasi populasi masayarakat di dunia, dan zaman dimana orang bilang bahwa akan sangat sulit bagi kita menemukan orang-orang yang ketika dia berbuat sesuatu untuk orang lain, dia tak terlebih dahulu bertanya " Apa untungnya hal itu untuk kehidupan saya??!". --self oriented profit menjadi motivasi besar yang mendorong orang berbuat sesuatu. 

Apa yang saya alami 2 hari kebelakang berhasil menggugurkan paradigma --Zaman Sekarang-- tersebut, 2 hari yang luar biasa menyenangkan, 2 hari yang tak mudah terlupakan, 2 hari indah yang dikelilingi dan dipenuhi oleh orang-orang besar --hati dan pemikirannya--, orang-orang yang jauh dari kata mementingkan dirinya sendiri, bahkan sebaliknya, mereka begitu khidmat memikirkan apa dan bagaimana cara terbaik yang akan mereka gunakan untuk menyampaikan dan memberikan sesuatu pada orang lain.     

Kelas Inspirasi Tasikmalaya, suatu kegiatan yang mengajak para profesional untuk iuran berupa cuti sehari demi mentransfer semangat dan memberikan inspirasi kepada anak-anak di daerah pelosok di Tasikmalaya guna menyemangati anak-anak tersebut agar mereka mau lebih giat belajar dan semangat menjalani hari-hari pendidikan mereka, itulah alasan dan jalan Allah mempertemukan saya dan mereka. 
12 SD-MI di daerah Tasikmalaya terpilih menjadi tempat pelaksanaan kegiatan Kelas Inspirasi Tasikmalaya ini. Masing-masing sekolah mendapatkan sejumlah relawan yang nantinya akan datang ke sekolah tersebut berbagi keceriaan dan semangat serta inspirasi bagi siswa-siswa Sekolah tersebut.   

saya pun termasuk kedalam tim relawan yang akan menginspirasi di kegiatan ini. MI Cicurug, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, itulah sekolah dasar swasta di daerah Kabupaten Tasikmalaya yang menjadi tempat kami berbagi inspirasi.

untuk siswa-siswi sekolah inilah saya dan mereka bertemu dan dikumpulkan, Saya diberi amanah sebagai seorang fasilitator yang bertugas mengordinasikan hal-hal yang dibutuhkan dalam pelaksanaan kegiatan di sekolah terebut. seharusnya sih, gitu, tetapi dalam pelaksanaannya, banyak hal yang saya lewatkan dalam konteks saya sebagai seorang fasilitator. ada amanah lain dalam kegiatan ini yang mengaharuskan saya membagi perhatian saya sehingga ada beberapa hal yang saya lewatkan sebagai seorang fasilitator yang baik. --maafkan saya ya

Tiap sekolah yang dijadikan tempat pelaksanaan kelas inspirasi, kedatangan beberapa orang profesional dengan latar belakang profesi yang beragam, dengan harapan, siswa-siswi disana mampu termotivasi untuk menjadi seperti para profesional tersebut dan mau giat belajar hingga menjadi apa yang mereka cita-citakan.
begitupun dengan MI Cicurug, ada 6 Inspirator, 2 dokumentator dan 2 fasilitator yang datang membawa semangat serta harapan besar bagi adik-adik siswa disana. mereka beraksi menebar inspirasi ke kelas-kelas dengan gaya dan cara mereka masing-masing. sejujurnya, selain siswa-siswi disana, saya pun mendapatkan banyak inspirasi dari orang-orang hebat ini. orang-orang yang mau berpeluh tanpa mengharap imbalan apapun kecuali senyum bahagia dan semangat yang membuncah pada diri anak-anak yang mereka dorong untuk berani bermimpi.

saya perkenalkan ya masing-masing dari mereka dan 5 hal yang merangkum kesan saat bersama mereka:

1. Teh Intan     : Tahu bagaimana harus bersikap, Aktif, Periang, Tangguh, Penuh simpati
2. Teh Tika      : Pendiam yang aktif, pulang duluan wae, bersemangat, Strong, cerdas
3. Teh Eva       : Ramaaah, rendah hati, baik, jagoan bikin video nya, ceria
4. Mas Derry : Aktif banget, sangat baik, faham bagaimana berinteraksi dengan orang lain, asyik, agak kebapaan lah
5. Mas Sonny  : Dewasa, kritis banget, cerdas, selalu ingin melibatkan diri, sempurna
6. Teh Sylivia   : di W.a sih pendiam eh aslinya rame pisan, strong woman, gauul, akhirnya ketagihan ikut KI
7. Teh Tia        : pertama keliatan jutek, aslinya mah nggak, selalu rame, detail, ramah
8. Teh Anne     : aktif, cerdas, dewasa, baiik, keibuan
9. Pak Budi     : Pejabat teladan, Baik banget, Tegas, proaktif, faham dengan kami-kami yang rata2 seumuran anak-anaknya.

kiri-kanan :
atas : jajaran staf pengajar MI Cicurug, Kecamatan Sukaratu
Bawah : Teh intan, Mas Sonny, Teh Anne, Mas Derry, Teh Sylvia, Teh Tia, Teh Tika, Saya
yang motoin : Teh Eva

dari orang-orang hebat itu lah saya belajar banyak hal. paham akan artinya pengorbanan, dari cara mereka berkorban meluangkan waktu kerja/kuliah mereka, dari cara mereka mengeluarkan harta mereka, dari cara mereka berjibaku dengan waktu membaginya agar kewajiban dirinya sendiri terpenuhi serta tanpa mengurangi hak nya untuk orang lain. saya pun belajar banyak dari mereka dari cara mereka menunjukkan bahwa hidupku ini tak hanya sekedar "untuk aku", tapi juga untuk dia dan mereka, dan belajar bahwa segala problem yang ada di sekitar kita akan terpecahkan jika kita semua bergerak bersama, tidak berjalan sendiri-sendiri, tapi bersama beriringan. --aku, kamu, dia, kita dan mereka dengan visi dan tujuan yang sama berikhtiar menjadi solusi, agar problematika yang ada ini hanyalah menjadi sebuah tempaan yang membuat kita, bangsa Indonesia, menjadi semakin kuat.

dalam salah satu pidatonya, Presiden pertama Indonesia pernah mengangkat sebuah cerita yang berasal dari kitab Ramayana. Beliau bercerita bahwa dalam kitab Ramayana ada sebuah negeri bernama Uttara kuru, negeri dimana semuanya serba biasa-biasa saja, tak ada panas yang terlalu, tak ada dingin yang terlalu. tak ada susah yang terlalu bahkan tak ada masalah yang terlalu, semuanya serba sedang-sedang saja. Sungguh negeri tanpa problematika. Sehingga Rakyatnya pun adem ayem dengan kehidupannya yang adem-ayem, tak ada rintangan, tidak ada perjuangan. jika dibandingkan dengan bangsa kita, sungguh jauh berbeda. Kehidupan disana serasa indah dengan senang yang tidak telalu dan susah pun yang tidak terlalu, semuanya serba sedang-sedang saja. Memang indah, negara dengan kondisi seperti itu adalah negeri yang indah. Tapi apakah kita mau menjadi negeri seperti itu?

saya rasa tidak, karena bangsa yang seperti itu tak akan pernah menjadi bangsa yang besar, tak akan pernah merasakan bercucurnya peluh perjuangan, pergulatan dengan berbagai macam problematika kehidupan dalam berbagai macam aspek, yang dengannya lah kita semua bisa menjadi bangsa yang kuat. karena bangsa yang biasa-biasa saja, tak akan pernah faham rasanya saling menolong dan membantu dalam peliknya kehidupan dan tak akan mengerti bagaimana rasanya berkorban walaupun kita sendiri berada dalam kesulitan, dan negara yang sedang-sedang saja tak akan pernah tahu bahwa ada begitu banyak orang-orang hebat yang siap membagi cita dan cinta mereka untuk orang lain yang bahkan tak pernah mereka kenal, seperti yang telah orang-orang hebat ini ajarkan pada saya.

karena merekalah yang membuat bangsa ini menjadi bangsa yang besar!









Powered by Blogger.
 
;