Friday, 17 August 2018 0 comments

(Bukan) Sekedar Tempat Tinggal


Ini penampakan depan tempat tinggal saya selama setahun terakhir. Bangunan super tua, berbahan dasar kayu, insulasinya pun tidak terlalu baik, jika tidak bisa disebut buruk, sehingga ketika musim dingin tiba, sangat terasa menggigilnya dan jika badai melanda, goncangannya sangat terasa, jangankan itu, orang lewat saja, juga pasti langsung berasa.  

Jika dibandingkan dengan apato-apato (read: sebutan untuk kosan di Jepang) yang  lain, mungkin gedung ini agak berbeda. Di gedung ini, semuanya buang sampah semaunya. Bahkan hingga hari terkhir saya tinggal disanapun, saya masih tak tahu bagaimana pengaturan jadwal pembuangannya. ini hal yang sangat aneh sebetulnya, karena pengaturan mengenai pengelolaan sampah di Jepang dibuat sangat rapih, aturan mengenai kapan kita diperbolehkan buang apa dan harus kemana kita buang apa, dibuat sangat mendetail, sehingga kita tidak bisa asal membuang seenaknya. 

Tapi tidak dengan gedung ini, sampai detik terakhir menjadi penghuninya, saya masih bisa bebas membuang sampah (di tempat yang telah disediakan tentunya). mungkin ini akibat dari usia gedung ini yang sudah sangat tua. saking tua nya, bahkan pada saat awal saya menandatangani kontrak untuk menempati salah satu ruangan di gedung ini untuk satu tahun, pihak agen penyewaan mengingatkan bahwa saya tidak bisa tinggal disana lebih dari bulan juni 2018, karena gedung tersebut akan dirobohkan. mengingat kelulusan saya jatuh di bulan maret, maka saya pikir tak akan ada masalah sama sekali dengan rencana pengahancuran gedung yang dibuat oleh agen penyewa. sebelum gedung ini dihancurkan, toh saya sudah tak menempatinya lagi, begitu pikir saya waktu itu. Meski pada akhirnya saya tinggal di gedung tersebut hingga akhhir bulan april. 

Adapun beberapa hal yang membuat saya menjatuhkan pilihan untuk mengisi salah satu kamar di gedung ini adalah, biaya sewa yang relatif murah dengan fasilitas yang realtif komplit, pertimbangan jarak antara gedung ini dengan tempat saya melakukan riset dan jarak antara gedung ini dengan stasiun kereta terdekat (kebetulan gedung ini berada ditengah-tengah antara tempat saya melakukan penelitian dan stasiun terdekat). Meskipun dengan segala kekurangannya, saya akan dengan sangat tegas untuk bilang bahwa saya menyukai tempat ini.  

hidup di negeri yang mengalami pergantian musim sekitar 4 bulan sekali, membuat sense kita terhadap waktu yang terus malaju menjadi cukup lemah, eeh tahu-tahu sudah musim semi, loh ko sudah musim gugur, wah ternyata sudah musim dingin, aduh sudah mulai musim panas. ya kurang lebih seperti itu lah gerutuan orang yang tidak sadar dengan waktu yang berjalan dan terlena dengan keindahan serta pesona tiap musim yang ditawarkan. itu pula yang menghinggapi perasaaan saya. hingga tak terasa, setahun lebih saya telah tinggal di gedung tua itu, menikmati menghabiskan dingin dan panas lalu kemudian tersenyum-senyum di musim semi dan musim gugur. Bagi saya, gedung itu bukan hanya menjadi tempat singgah, tapi juga menjadi tempat saya bisa nyaman berkontemplasi di tengah hiruk-pikuk aktivitas aktualisasi diri. bahkan terkadang saya juga berolah raga disana, beruntung saya dapat warisan alat kebugaran sederhana yang bisa digunakan didalam ruangan, alatnya semacam sepeda yang tak berpedal, dia punya handle bar dan ada tumpuan lututnya, cara menggunakannya adalah dengan mengayunkan lutut mendekati dada, meski gerakannya sederhana, tapi cukup ampuh lah untuk membakar kalori hasil makan ayam balado di malam hari.  apa tidak berisik berolah raga di dalam kamar?

oh tentu saja berisik, namun beruntungnya saya bahwa kamar dibawah kamar saya dan kamar di samping kanan kamar saya adalah kamar-kamar yang sudah tak berpenghuni, hanya tersisa satu kamar di sebelah kiri kamar saya yang saya tahu bahwa kamar tersebut masih ada penghuninya. ko bisa tahu? dengkuran penghuninya ketika malam hari tiba, membuat saya yakin betul bahwa ada orang yang tinggal disana. dengkurannya menembus dinding!

ya seperti itulah kondisi gedung tua yang saya tinggali, sungguh banyak sekali kurangnya, namun saya tetap suka.

Lalu, singkat cerita, skitar bbrapa pkan lalu saya mendapatkan kabar dari seorang sahabat, bahwa gdung apato ini dirubuhkan (mungkin di renovasi). Sebetulnya memang sudah tahu sejak dari awal mengenai hal tersebut, namun entah kenapa, tetap saja ada perasaan berat yang menghinggapi (mohon maklum, melankolis sejati). Sentimental values yang nempel erat di gedung itu tak akan pernah bisa terganti, meski hanya berganti wajah, meski hanya berubah bentuk,  tetap saja ada sesuatu yang berbeda, ada yang hilang dari sebelumnya.

ya, kita hanya akan bisa menggerutu dalam kehilangan ketika apa yang sangat erat melekat di hati, harus menghilang, pergi dan terganti. 


dua foto diatas adalah foto yang dikirimkan oleh sahabat saya, melihatnya membuat saya tersenyum getir..haha



2018/08/18
Tasikmalaya


Friday, 13 April 2018 0 comments

Sejenak dan kemudian bergegas

sebetulnya sungguh tak terasa bahwa sisa waktu yang saya miliki untuk bisa berlama-lama menghirup udara pagi tsukuba, menembus gelapnya malam tsukuba, merasakan sepinya tsukuba, mendengar sesekali bersiknya kicauan gagak tsukuba dan hangatnya suasana kekeluargaan tsukuba, hanyalah sebentar lagi jika sesuai dengan jadwal halte bus di jalur kehidupan no 12 saya ini. meski memang entah akan berlanjut kemana lagi kendaraan ini akan membawa saya, entah akan kembali ke tsukuba atau membawa saya ke tujuan lain yang belum pernah saya bayangkan sebelumnya.

menarik memang menghadapi sesuatu yang baru, karena toh boleh jadi kita kadang lupa kapan terakhir kali kita melakukan sesuatu untuk yang pertama kalinya dalam hidup kita. selama Allah bersama kita, maka semua akan menyenangkan.. 

Masih di tempat duduk yang sama, 04/14/2018
Wednesday, 11 April 2018 0 comments

Tuang Pikiran

Boleh  jadi ini yang ketiga kalinya bagi saya menulis sebuah manuskrip hasil penelitian yang hendak di publikasikan melalui beberapa tahapan peer review journal. tapi tetap saja, jari-jari tangan dan otak ini belum terlalu terbiasa untuk menumpahkan ide-ide, mengkonversikannya menjadi padanan alur cerita yang menarik, yang saling bersambung pada tiap-tiap spasi paragraf sehingga menghasilkan draft artikel yang mudah difahami mengenai apa dan bagaimana hasil penelitian ini mampu ikut berkontribusi membentuk bangunan ilmu pengetahuan. terlebih di prosesnya, jika sudah harus memulai untuk mengarang bebas supaya introduction part bisa tidak hanya asal terisi penuh, namun mampu menyampaikan pondasi argumen yang relevan hingga pembaca mengamini bahwa penelitian ini memberikan signifikansi melalui kebaruan yang ditawarkan terhadap perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan maka, disitulah letak tantangannya bermula. permasalahannya adalah, wawasan saya diuji betul apakah mengetahui state-of the art dari bidang yang hendak kita tawarkan solusi dari permasalahan yang muncul bidang tersebut. tidak berhenti disitu, saya pun dituntut memahami semua konsep yang ada, yang memang kita harus faham, karena jika kita tidak memahaminya maka kita tidak faham. naon

pernah dengar istilah teko hanya akan mengeluarkan isi teko?

adagium yang sangat pas menggambarkan bagaimana proses kreatif dalam menulis (secara umum) bisa dimulai. terkadang kita berhenti dari ketikan-ketikan jari di keyboard, hanya karena kita sudah tidak tahu lagi akan membahas apa, tidak tahu lagi hendak menceritakan apa. meski memang masih banyak alasan lain yang memaksa kita menghentikan ketikan jari ini, sebut saja sakit perut perlu ke kamar mandi, masak indomie atau karena jualan sari mie. naon

tapi tak bisa dipungkiri, asupan-asupan informasi bernutrisi yang masuk ke kepala saya yang berhubungan dengan fondasi ilmiah dari riset yang saya tekuni, itulah bekal andalan satu-satunya ketika hendak menulis introduction part dari manuskrip yang ingin segera saya selesaikan ini (menulis secara umum). jika tak pernah ada asupan bergizi, maka tak ada keluaran yang berkualitas, argumen yang ber-nas, yang tersisa hanya kumpulan berbaris-baris kalimat yang sengaja dideretkan agar supaya tulisan terlihat penuh. dagingnya dikit, tulang semua.

ini baru berbicara bab pembuka, belum lagi bab-bab yang lain yang memang mengharuskan kita menghadirkan kecermelangan pikiran dalam memadu-padankan wawasan yang ada demi memahami fenomena yang terjadi dari hasil penelitian yang hendak di presentasikan dalam sekumpulan gambar dan berbait-bait tulisan. 

--karena saya mau cape, biar bisa udahan nulisnya--

jadi, apapun itu bentuknya..jika hendak berkarya, menghasilkan ekspresi perasaan yang memiliki nilai tinggi baik dari perspektif ilmu pengetahuan ataupun moral, maka kita perlu asupan bergizi sebagai bekal yang bisa kita olah dan proses sehingga menghasilkan energi yang cukup agar kita mampu menghasilkan sesuatu. tidak berhenti karena sudah tidak tahu, tidak berhenti karena sudah tidak bisa. semakin banyak kita tahu, setidaknya semakin banyak peluru yang bisa kita siapkan jika sesekali itu dibutuhkan.

hindari sesuatu yang jelas-jelas tidak jelas kebermanfaatannya seperti HOAX, narkoba dan kang junaedi!


WPI-MANA (NIMS)- 11 April 2018 jam 9.28 P.M 
Wednesday, 7 February 2018 0 comments

Check Point Imaji

ketika kita berproses, maka check point2 dari panjangnya proses yang kita lalui adalah suatu kebutuhan. Mungkin, bisa kita menjadi layaknya seorang pelari marathon yang memiliki napas panjang dan tidak mudah terengah-engah ketika berusaha mencapai garis akhir di track yang panjang dengan ujung tak terlihat, pangkal tak terbayang. Tapi dengan konsistensi dan persistensi yang kita bangun dengan mencipta check point imaji, boleh jadi daya tahan kita jauh lebih lama, jarak tempuh kita jauh lebih panjang, capaian kita jauh lebih gemilang. meski perjalanan yang hendak di tempuh amat sangat panjang. 

Dan hari ini, adalah check point kesekian dalam jejak perjalanan hidup saya.

(gambar sebelum final presentation)

hanya agar saya mau siap untuk menuju check point selanjutnya, check point yang saya sudah harus tau bagaimana harus menuju kesana dan berapa lama estimasi waktu yang saya perlukan menuju kesana. sebetulnya cukup banyak parameter lain yang saya perlu invetarisir sebagai bekal perjalanan, tapi saya sedang tidak mau rajin menuliskannya saja. maaf ya

Ya setidaknya kita semua merasa faham meskipun belum tentu. Bahwa jarak panjang perjalanan, bisa kita bagi-bagi menjadi jarak pendek semau kita, asal kita mau saja. 

lihat saja si duyeh, dia bisa manjat pohon.
lihat itu si domo, dia bahkan bisa berenang.
saya salut dengan mereka, yang bahkan saya sendiripun tidak tahu mereka siapa.

ini sih hanya sekedar cara umum yang sudah barang tentu diketahui oleh orang-orang yang berakal. 

sudah ah, cape

berkah untuk kita semua..aamiin
Friday, 18 August 2017 3 comments

Tumben Beli Anggur

kecenderungan seseorang dalam hal dominasi antara otak kiri dan kanannya dalam beraktivitas sangatlah tergantung kepada asupan gizi otak yang dia suplai. bukan berarti melulu mengenai makanan ya! melainkan berbagai hal yang membuat otak beraktivitas, terbiasa menyerap informasi yang acak serta terlatih dalam memproses informasi yang masuk, baik dalam bentuk audio, visual maupun gabungan dari keduanya, audio-visual. terlalu banyak terpapar dengan hal-hal yang beraroma faktual, angka-angka, sistematis, runut serta kadang hanya hitam dan putih, membuat dominasi otak kiri terhadap otak kanan menjadi semakin besar, dan itu kadang tercermin dalam bagaimana kita bersikap dan merespon hal-hal apa saja yang mengenai diri kita. begitupun sebaliknya, ketika lingkungan kita mendorong dan memfasilitasi kita untuk sering bercengkrama serta bersinggungan dengan hal-hal yang sangat berwarna, penuh dengan daya khayal imajinasi serta kreatifitas, maka pada saat itu pula otak kanan kita mendapatkan pasokan gizi yang sangat memadai untuk bisa berkembang dan menunjukkan dominasinya terhadap otak kiri.

lalu, apa superioritas satu diatas yang lainnya merupakan suatu keuntungan yang sangat signifikan?

nanti deh dijawabnya.

karena sebenarnya, di postingan ini saya hanya ingin bercerita bahwa hari ini kami mendapatkan anggur murah yang dijual di warung sederhana di dekat mesjid sepulang Jumatan.

musim panas tahun ini memang cukup unik karena libur musim panasnya diguyur hujan selama 3 hari berturut-turut dan bisa jadi berhasil menggagalkan rencana liburan mereka-mereka yang berniat untuk liburan diliburan musim panas ini. Tapi hal itu tak terlalu berpengaruh dengan musim panen kebun anggur di dekat mesjid Tsukuba. meski cuaca kadang mendung, tiba-tiba hujan lalu kemudian panas yang tak tertahankan. kebun angggur ini tetap berhasil panen menghasilkan bapak-ibu penjual anggur yang ramah sekali. mungkin karena anggurnya berlimpah. yang menarik dari kebun anggur disini adalah, setiap batang pohon anggur mampu menghasilkan anggur. cukup mengejutkan bukan?

saat kami menghampiri dan mecoba dengan sepenuh hati untuk membeli anggur-anggur hasil panen tersebut, bapak-ibu penjual yang ramah ini alhamdulillah mengerti maksud kedatangan kami. dan kami pun diterima dengan baik oleh mereka. pasalnya, saya sendiri nggak bisa bahasa Jepang dan sepertinya bapak-ibu penjual agak kesulitan  menggunakan bahasa inggris. sehingga bahasa yang kami gunakan adalah bahasa persatuan.

setelah lama berbincang entah kemana arah dan mengutarakan bahwa kami hendak membeli 5 paket anggur yang ditawarkan, dengan baik hatinya mereka memberi kami bonus berupa anggur. wah sungguh baik hati sekali bapak-ibu penjual anggur ini.kami pun mendoakan semoga beliau-beliau mampu menjadi panutan bagi anak-cucunya kelak dan semoga pohon anggurnya senantiasa berbuah anggur.

begini penampakan anggur yang kami beli dengan patungan ini. benar-benar sangat anggur bukan?

 

dan ini penampilan bapak-ibu penjual yang sangat ramah dan baik hati ini.
mereka benar-benar mirip orang jepang.


maaf saya lupa nanya nama bapak dan ibu nya. mudah-mudahan lain kali mereka ingat.

oke.

lain kali, saya share lagi hal-hal menarik yang saya jumpai di Tsukuba ini.
biar otak kirinya nggak terlalu mendominasi!!

salam,

Tsukuba, 170818

Thursday, 15 June 2017 0 comments

Mungkin itu Kita


Leiden is lijden ~ memimpin adalah menderita

H. Agus Salim. sosok hebat yang memiliki kemampuan poliglot dengan penguasaan (setidaknya) 9 bahasa asing; Alim yang kritis; garda terdepan pembela kedudukan Indonesia di mata dunia; Grand Old Man, begitu Bung Karno menjulukinya; dwi tunggal bersama H.O.S Tjokroaminoto; orator ulung, bahkan mahsyur sekali kisahnya yang cerdas dan halus saat melakukan serangan balik terhadap hadirin rapat yang mengembik seperti kambing saat ia berpidato, mereka bermaksud mengolok-olok dirinya; perumus dasar negara yang hidupnya tidak berlebih dalam masalah harta, dari gang becek ke gang becek lainnya, dari kontrakan kecil ke kontrakan kecil lainnya, kurang lebih begitulah hidupnya, bahkan dalam catatannya, Prof. Schermerhon berkata bahwa selama hidup, kelemahan H. Agus Salim hanya satu, yakni hidupnya melarat. 

sosok cerdas ini lahir di keluarga dengan orang tua yang memiliki kedudukan, membuat ia berkesempatan menerima pendidikan. bahkan cemerlangnya ia, telah ia perlihatkan pada masa sekolah, kepala sekolahnya di Europes Largere School sangat tertarik dengan kecerdikan yang H. Agus Salim kecil tunjukkan. Selesai dengan seluruh jenjang pendidikan yang ia tempuh, ia bekerja di lingkungan pemerintah Belanda. sehingga tak ada alasan yang menyertainya untuk tidak bergelimang harta. sehingga baginya, hidup serba ada bukanlah tak mampu, beliau memilih untuk tidak mau!

Leiden is Lijden - Memimpin adalah menderita, begitulah M. Roem menuliskan dalam catatannya meski Kasman lah yang menginspirasinya. 
Jalan pemimpin bukanlah jalan yang mudah, memimpin adalah jalan yang menderita. H. Agus Salim sangat berhasil menginspirasi Bangsa Indonesia melalui jalan hidup yang dipilihnya. Menginspirasi kaum muda yang tengah berjuang, meski perjuangannya barulah sebatas bagaimana bisa mengatur waktu, agar manfaat dari hidupnya tak sekedar untuk "saya" namun untuk "dia" juga "mereka". Sungguh, belum seujung kuku penderitaan Bapak Bangsa. 

Maka, mari bergegas, tak usah banyak mengeluh dan meminta, memimpin itu menderita, dan itu semua ada di pundak kita. yang merasa sebagai generasi penerus bangsa.

Tsukuba, 2017-04-02 02.30



Wednesday, 14 June 2017 1 comments

Cerita-nya

saat mengayuh sepeda dalam perjalanan pulang, tiba-tiba sekelebat ingatan muncul. kuatnya efek dari udara dingin malam ini berhasil mendistraksi apa yang sebenarnya sedang ku lakukan pada saat itu, mencipta banyak genangan kenangan di kepala, membuat bayang-bayang ingatan yang acak terus berputar-putar di otak. 

agak aneh memang udara malam ini, tak seharusnya sedingin ini. dingin tak semestinya muncul lagi, penghangat tak seharusnya terpasang lagi. untuk musim ini. 

lalu ingatan tentang masa-masa itu muncul tiba-tiba. 

kurang lebih 6 tahun lalu, tepatnya di sekitar bulan juni-juli yang bertepatan dengan bulan Ramadhan kala itu. 

kisah mengenai kelakuan ajaib seorang sahabat  yang begitu antusias untuk berbagi rasa bahagia yang ia punya, berbagi apa yang ia miliki, meski tak banyak, meski tak seberapa. dialah sosok yang selalu kami andalkan, sosok yang selalu mampu menjadi turbin energi pendorong bagi sahabatnya ketika redup, sekaligus menjadi lilin yang yang selalu bersedia berbagi cahaya, meski ia meleleh dan habis.

pukul 16.00 dia sudah bersiap dengan semua yang dia butuhkan.
kertas bungkus nasi, karet gelang atau hekter (atau mungkin keduanya jika saat itu dia punya), lalu plastik kantong kresek. 
itulah peralatan sederhana dan murah yang biasa ia beli di warung kecil di depan tempat ia tinggal selama 2 tahun terakhir ini. 
ia beralih ke yang lain setelah ia pastikan bahwa semua tersedia. sekitar 2 jam menuju adzan maghrib untuk berbuka. "sudah saatnya memasak nasi" begitu pikirnya. rice cooker pembelian ibunya saat pertama kali ia menginjakkan kaki di kota kecil ini menjadi satu-satunya alat masak proper yang ada di kamar kecil miliknya. sisanya hanyalah termos plastik pemanas bertenaga listrik yang katanya bisa dibuat untuk memasak mie instant, meski entahlah itu sehat atau tidak, apa jadinya plastik yang terkena kepingan logam panas karena diberi energi listrik?? sungguh aneh.
namun, meski hanya ada rice cooker itu, baginya lebih dari cukup sebagai modal berbagi kebahagiaan dengan mereka-mereka yang ia inginkan untuk dapat merasakan bahagia yang ia rasa. tak butuh lama, setengah jam berlalu, rice cooker mulai mengepul, nasi sudah cukup masak.

ia pergi ke warung makan murah yang telah menjadi tempat favoritnya semenjak ia tahu ada warung semurah ini di sekitar tempat ia tinggal. bayangkan saja, kau bisa dapatkan sebungkus penuh sayur tumis yang kau sendok sendiri hanya dengan mengeluarkan uang 1500 perak. BBM pada saat itu masih sekitar 5000 rupiah. 
disana ia membeli sayur tumis, tempe dan sedikit kuah ayam kecap. sebenarnya porsi yang sangat banyak yang ia ambil, tapi selalu saja, bapak pemilik warung mematok harga yang keterlaluan murah untuk makanan sebanyak itu. mungkin bapak sudah tak memikirkan untung rugi dalam berdagang. yang penting ibadah, mungkin begitu yang ada di benak bapak. semoga bapak dan keluarga mendapat keberkahan dari Allah.

pulang ke rumah, ia mulai membagi 3 porsi makanan yang ia beli, satu untuknya, 2 lagi untuk entahlah. lalu ia membungkus 2 kepal nasi seukuran porsi makan bapak-bapak pekerja berat. ia rapihkan dan masukkan ke kantong kresek 2 porsi lauk dan 2 bungkus nasi berukuran besar.

waktu-waktu sore di bulan Ramadhan adalah waktu dimana mahasiswa-mahasiwi berlalu-lalang kesana kemari, bergerombol-gerombol, memadati jalanan-jalanan, menghabiskan waktu sore hingga adzan maghrib tiba tidak terasa. namun beda dengan sahabatku ini, dengan setelan yang seadanya,  tas selendang bermerek yang ia dapat dari diskon besar-besaran serta sendal gunung yang selalu jadi favoritnya, bahkan sempat satu waktu ia kehilangan sendal gunung itu, lalu esoknya, ia bobol tabungannya yang sedikit untuk membeli sendal gunung yang sama, persis, identik dengan sendal yang hilang. boleh dibilang, semacam obsesi mungkin.  dia pergi keluar rumah menuju ke entahlah. karena tujuannya memang bukanlah suatu tempat. yang dia cari adalah orang. orang yang kebingungan hari ini hendak makan apa, kebingungan bukan karena saking banyaknya pilihan menu jajanan makanan yang tersedia, namun karena tak mampu mereka membelinya. 

5 menit ia berjalan kaki, 5 menit itu pula matanya cukup awas memandang area di sekitarnya, siapa tau ia menemukan apa yang ia mau. pucuk dicinta, semuanya tiba, tak butuh lama ia menemukan sosok ibu tua renta yang menggendong anak. Ia berselendangkan sarung kumal dan bersila di atas koran entah terbitan kapan. Ia menghampirinya dengan seolah tak hendak menghampirinya. baginya, hina jika tingkahnya menarik perhatian orang. "Bu ini alhamdulillah sedikit rezeki untuk buka nya ibu dan adek, mudah-mudahan barokah" begitu ucapnya dengan suara amat pelan namun sangat tergesa. bersamaan dengan diserahkannya kantong keresek yang ia bawa. "aduh nuhun pisan cep, mugia kagentosan kunu langkung2" sambil hampir mencium tangan sahabatku ini. namun ia mengelak. tak pantas baginya mendapat penghormatan sejauh itu dari makhluk mulia yang Allah letakkan syurga di telapak kakinya. "aamiin bu" sambil ia pergi terburu-buru.

entah perasaan semacam apa yang ia rasakan di saat itu. 

yang jelas, bahagia yang ia punya, tiba-tiba termultiplikasi oleh senyum bahagia dari mereka.

sepanjang perjalanan pulang, senyum yang menahan tangis bahagia tergambar jelas di rona mukanya.

Aku memberi, agar Allah mampukan aku untuk memberi lebih banyak..

begitulah katanya cara ia berbahagia.



Tsukuba, 2017-06-15 02.02
source: Gambar








Powered by Blogger.
 
;