Monday, 9 December 2013 0 comments

hhho

dalam perjalanan ini dan dengan beberapa keterbatasan.
mungkin kita dicipta bukan untuk melakukan semuanya..tetapi kita ada, untuk melakukan sesuatu hal.
ya..sesuatu yang membuat keberadaan kita cukup berarti, penuh manfaat..
-distract..pergilah kau

Friday, 6 December 2013 0 comments

Insiden Wisudaan

yah telat lagi..

padahal hari itu, acara itu... sudah fiks bukan hari yang yang tergolong biasa saja -tergolong begitu istimewa- , tapi ko dong-dong banget lah malah melakukan kebodohan yang biasa pada momen yang luar biasa seperti ini. alhasil tubuh ini mendadak pinter mensintesis -menghasilkan persenyawaan-  yang begitu saja menimbulkan efek-efek gelisah: raut muka berubah, keringet dingin walau bukan keringet darah, perut mules parah, haus laper lesu dan lemah. aaah

emang mudah sih nyari gedung tempat terselenggaranya acara, apalagi kalo kita sudah tahu area tempat acara itu digelar dimana. tapi ya itu dia, selalu akan lain ceritanya jika kedatangan kita ke tempat acara itu saangat terlambat, barang bawaan kita untuk acara itu banyak, dan kita bawa-bawa orang.. lengkap sudah alasan perut ini jadi mules-mules. 20 menit dihabiskan hanya untuk muter-muter mencari gedung tempat acara digelar, yang alhamdulillah akhirnya ketemu juga itu tempat acara dengan bantuan pak satpam yang baik hati -tapi anehnya si bapak ko nggak tahu ya ada acara tersebut hari ini??- 

prosesi WISUDA, inilah acara yang sedang kita bicarakan sedari tadi: acara yang dengan bodohnya saya lewatkan pembukaannya, yang saya lewatkan pidato-pidato sambutannya, dan saya lewatkan doa pembukanya. 

ke acara ini, saya pergi berdua dengan ibu: makanya cukup kasihan juga sama ibu yang saya ajak lari-lari pagi-pagi -yang bukan lari pagi-, hingga terlihat basah baju yang ia kenakan -baju paling bagus yang telah ia persiapkan jauh-jauh hari untuk acara istimewa ini- karena keringat yang cukup deras bercucuran dari dahi beliau, tapi walau bagaimanapun ibu selalu tetap tersenyum. ah anak macam apa ini; yang bikin ibunya kesusahan -_-

singkat cerita, bereslah sudah segala macam rangkaian acara prosesi wisuda sesuai dengan yang sebelumnya telah dibacakan oleh teteh-teteh MC dari team protokoler mahasiswa. kami para wisudawan pun diersilahkan untuk meninggalkan ruangan -termasuk saya dan ibu- , karena beberapa jam lagi ruangan ini -ruangan yang kita berada didalamnya waktu itu- akan dipersiapkan untuk acara prosesi wisuda dari fakultas yang lain. 

bagi kami para wisudawan, di hari itu tak ada lagi agenda selanjutnya yang begitu penting, selain jeprat-jepret menggunakan kamera-kamera yang telah dibekal dari rumah untuk mengabadikan momen bersejarah ini:  momen melangitnya kebahagiaan diatas perjuangan selama 4 tahun, momen teraihnya titik puncak sebagai mahasiswa. dengan riangnya para wisudawan dan orang tua wisudawan berasyik ria berpoto, mencoba membuat semua bahagia ini bisa terangkum dan terabadikan dalam satu frame poto. 

sayangnya kami tidak mengikutsertakan diri dalam momen haru sekaligus bahagia itu, hari ini saya dong-dong: saya malah tidak membawa kamera, bahkan hp yang berkamera pun tidak sempat saya bawa. oh men, saya kecewa berat, tak ada yang bisa saya gunakan untuk membuat dan mengabadikan kenangan indah di momen ini, yang jelas nantinya tak bisa saya berujar "ah ini poto saya waktu wisuda dulu".
tapi dan tapi.. untung ada ibu, dengan senyumnya yang begitu teduh ia menenangkan saya.  "kita coba telpon teteh ya, minta dia bawa kamera kesini".. "oh iya bu" jawabku. ah iyaya, kenapa tak terpikirkan olehku. kenapa tak coba minta tolong teteh. 
"cuy pinjem hape dong bentar" pintaku pada salah seorang sahabat yang terganggu acara poto-potonya. untung dia baik, diberi pinjamlah saya hape miliknya yang touch screen itu: yang sampai saat ini saya cukup kesulitan menggunakannya -semacam gaptek stadium 3-. 
lalu pergilah saya menghindari kerumunan wisudawan untuk menemukan tempat sepi yang pas untuk menelpon. "tut..tut..tut..tut...tut..tut..tut.." ko nada tunggu terus ya, entah kenapa ko sambungan telpon nya tidak teteh angkat. dahi saya pun berkerut lagi, rada kesel juga sih.
"coba telpon bapa sep" kata ibu ,masih tetap dengan senyum nya yang begitu menghangatkan.  "iya mah, saya coba telpon bapa". tapi lagi-lagi sambungan telponnya tak diangkat. kenapa ya, "ko pada ga ngangkat telpon, apa teteh sama bapak lagi nggak di rumah?" di situ saya coba menerka keberadaan teteh dan bapa  dimana, agar saya bisa langsung telpon orang yang mungkin sedang bersama mereka. "kira-kira siapa ya?". ah tapi saya baru ingat, saya tak bawa hp, ibu pun sama tak membawa hp, dan tak ada nomor ponsel orang lain yang kami ingat  selain nomor bapa dan teteh.

lama saya berpikir bagaimana saya harus menghubungi mereka. tapi di tengah lamunan saya itu, saya merasa ada yang aneh..dipikir-pikir ko bapa dan teteh nggak hadir disini ya. kemana mereka. ko hanya ibu yang menemani saya disini. kemana mereka.. 

ah sudahlah, daripada membuang waktu terlalu lama, saya dan ibu pun memutuskan pergi ke studio poto saja. -untungnya di dekat sini ada studio poto bagus, yang selalau di banjiri pengunjung pada saat ada acara wisudaan karena jadi objek kunjungan para wasudawan dan orang tua wisudawan seperti saya ini. setelah mengembalikan hp ke teman saya, kami -saya dan ibu- pun beranjak dari kerumunan orang menuju tempat studio poto......lalu setelah itu

jarum jam menunjuk tepat di angka 4, dan langit gelap..ah ini pagi, jam 4 pagi... sulit di percaya padahal saya rasa tadi masih sekitar jam 11 siang. 

sulit saya terima ternyata semua bayangan-bayangan tadi; bayangan puncak kebahagiaan melihat ibu tersenyum bahagia, tersenyum bangga, karena melihat saya; anak laki-laki satu-satunya yang selalu ia harapkan; yang selalu ada di antara doa-doanya; yang selalu ia khawatirkan keberadaannya karena jarang memberi kabar kesehariannya; yang selalu ia anggap si bungsu yang belum bisa mandiri mengurusi dirinya; yang selalu di andalkannya ketika di rumah tak ada yang menghabiskan masakannya ..
anak laki-lakinya ini, si bungsunya ini, telah rampung menyelesaikan studinya dan alhamdulillah menjadi sarjana sesuai harapannya..  

sulit saya percayai, itu hanya mimpi; hanya sekadar bunga tidur....  
senyumnya, pelukannya, dekapan tangannya terlalu nyata saya rasakan untuk ukuran sebuah mimpi, terlalu indah aura kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya jika ini hanya sekadar bunga tidur... 
astaghfirullahhal adzyim
sungguh indah Alloh mengatur ini semua, sungguh elok Alloh mengingatkan saya ini semua, sungguh bahagia Alloh memberikan kesempatan bertemu dengannya lagi. -walau hanya dalam mimpi

“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku dan kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”

ya Rabb, semoga engkau perkenankan kami, untuk berkumpul bersama lagi, dalam rahmat-Mu, dalam jannah-Mu.. aamiin


Wednesday, 13 November 2013 0 comments

Makna

.......sesuatu ada untuk sebuah alasan....
tak lagi melulu terjebak dalam ruang teori sesuatu terjadi karena sebuah alasan..
bukankah yang terbaik menurut kita belum tentu baik menurut Alloh SWT?!  -begitupun sebaliknya...
maka kemudian, kadang tugas kita hanya cukuplah bersungguh-sungguh menapaki apa-apa yang sedang kita jalani, tegak berdiri diatas keyakinan yang kita fahami, lalu gemilang mengakhiri apa yang kita mulai walau -mungkin- tak seutuhnya kita kehendaki. hingga nanti kita sampai pada satu titik, dimana kita akan mengerti tentang makna ''berartinya'' kita di perjalanan ini.


Sunday, 3 November 2013 0 comments

-berbagi-

syarat membagi adalah ketika kita berlebih atau ya minimal memiliki apa yang hendak kita bagi..
ingin berbagi kesedihan, ya minimal kita punya haru yang hendak kita bagikan
ingin berbagi tawa, ya minimal ada keceriaan yang melekat di diri kita
dan mari hendaklah berbagi hal baik , agar kita senantiasa berusaha untuk memenuhi hal baik tersebut untuk diri kita dan kita bagi kepada orang lain

gambar
Tuesday, 8 October 2013 0 comments

senyumlah :D

lama terjebak dalam ruang-ruang sempit ke-melankolis-an. disana terlihat terlalu pengap, sempit, dan terpenjarakan.

terlalu lama: hingga kau sempat -dibuat- lupa atau bahkan -dibuat- tidak sadar dengan kenyataan; bahwa pelangi itu indah; bahwa sinar mentari pagi itu menenangkan; bahwa tetesan embun itu menyegarkan; dan bahwa senyuman itu mampu merangkum kesemuanya. senyuman itu indah, dia menenangkan, dia menyegarkan, melegakan dan membahagiakan. bahkan dia mampu meringankan beban


sudahlah, tak usah melulu murung dan termangu. tersenyumlah, semua akan menjadi cerah; walaupun dalam sepi. biarkan sepi hening ini menjadi latar musik syahdu, lagu rindu antara kau dan pemilik hatimu..

lalu setelah itu..pergilah: bagilah keceriaan yang membuncah di dalam dirimu, melalui sikapmu yang polos, melalui tulisan mu yang jenaka, melalui impian-impian yang kadang membuatmu terkekeh saking gilanya, hingga semesta pun ikut tertawa. tawa bahagia karenamu.


mari jadi lilin kecil yang siap berbagi cahaya atau bahkan menitipkan api kecilnya pada lilin-lilin yang lain, hingga semua menyala,  hingga semua tak tahu dimana lagi ruang kegelapan berada.

luaskan hatimu dan Mari tersenyum ^_^

gambar deviantart deviantart
Thursday, 3 October 2013 0 comments

persimpangan jalan -yang lain-



mereka semua terdiam, -sebagai isyarat- mereka mengakui & menyesali kesalahan mereka pada waktu itu.

"makanya inget, jangan pernah sekalipun mengagungkan prasangka buruk yang menyebalkan itu, karena darinyalah bisa lahir persepsi, opini pribadi yang tak benar sama sekali, kemudian secara ajaib terekayasa menjadi fakta, walaupun agak sedikit memaksa, dan kalian mungkin tak menyadari itu." dengan lantangnya ia sampaikan kepada mereka.

"apa kalian tak pernah tahu, bahwa prasangka -buruk- itulah yang tak disukai, karena darinyalah ikatan silaturahim -yang telah lama kita perkuat- menjadi kendur. dahulukan lah berpikir dengan jernih dengan mengedaepankan prasangka baik, sekiranya semua yang kalian dengar dan yang kalian lihat masih bisa kalian bawakan pada (pemaknaan) yang baik" lanjutnya. -berhasil membuat mereka semakin merasa bersalah -lagi-.


sebenarnya bukan mereka tak ingin berprasangka baik atau bahkan -lebih jauh lagi- meluruskan apa yang terasa bengkok ini, hanya saja, apakah ia juga pernah mawas dri dan -bersikap- mempersilahkan mereka  mengetahui perihal yang menjadi beban pikiran mereka ini. -tidak pernah sama sekali
mereka sadar betul, mereka salah dengan sikap mereka. tapi apa dia lupa bahwa: dalam suatu kesalahan tak selamanya satu pihak bertanggungjawab penuh terhadap kesalahan tersebut. bukankah secara langsung ataupun tidak langsung, satu dua atau beberapa pihak telah memberikan andil terhadap lahirnya kesalahan -yang dialamatkan kepada mereka- ini. semoga ini pun bukan hanya sekadar pembenaran atas sikap dan kesalahan mereka. mereka hanya ingin semua benar-benar belajar, mengambil sari-sari pelajaran dari sini. -dari salah yang mereka buat dan mereka tanggung sendiri.


gambar disini
Thursday, 19 September 2013 0 comments

~Perjalanan & Kenangan~


perjalanan ialah berpergian -kepergian- dari suatu tempat ke tempat lainnya. -menurut kamus besar bahasa indonesia. ah andai hidup se-simple itu, sudahlah cukup 1 kalimat tadi menunjukkan apa itu perjalanan.
tapi  nyatanya tidak, perjalanan tak bisa terangkum oleh hanya satu- dua kalimat sederhana. 
perjalanan memiliki makna yang jauh lebih luas, lebih kompleks dan membuat indah karenanya atau dibuat suram juga olehnya .
karena perjalanan adalah proses panjang yang melibatkan aku, kamu, dia, mereka, ini, itu, dan lain sebagai nya, menghasilkan karya kisah yang aku sendiri pun tak pernah tahu kapan, dimana dan akan bagaimana akhir ceritanya. -akhir bahagia, itu harapanku dan barangkali harapanmu juga.

aku sadar betul, aku dibesarkan dalam dan oleh perjalanan karena memang perjalanan mengajarkan banyak hal kepadaku. Perjalanan mengingatkanku, tentang dimana kita berawal dan entah dimana kita akan berakhir
bahkan aku masih ingat bab pertama yang ia ajarkan padaku.
sering aku bercengarama dengan kabingungan, kegelisahan, bahkan ketakutan yang membuatku berat dan enggan, berat kaki ini untuk memulai, enggan untuk mau mengawali. -bisa jadi rasa itu juga pernah menghinggapi kalian. 
dan tahukah? -perjalanan mengajarkanku tentang keberanian, melalui bahasa-bahasa merdu, melalui mimpi, cita dan harapan -tentu saja- dari mereka yang berilmu.
aku terlena dengan mimpi itu, aku terjebak dalam pusara ambisi -bukan sekedar obsesi- mendapatkan apa yang -5 inderaku- belum pernah mengecapnya. Lalu setelahnya, -hatiku merasakannya- ada haru yang menyelimuti langit kala itu, kala aku memulai perjalananku. ada doa yang senantiasa mengiringiku -aku melihat air mata disana- dalam tiap langkahku meniti perjalananku. lagi-lagi aku tersadarkan, bahwa perjalanan lah yang telah memebesarkanku, melalui bapak, ibu, kakak, dan orang di sekelilingku
yang sebenarnya baru ku sadari kala itu, bahwa perjalanan yang ku mulai hanya akan mengantarkanku pulang. -pulang kembali pada mereka yang mengantarkan perjalananku
banyak ku temukan hal-hal baru di perjalanan. -takut, benci, obsesi, harapan, bahkan tentang cinta
awal langahku telah ku lewati, dan ini fase baru di perjalananku.
hanya aku - ya aku berkawankan kesendirianku.
fase yang ku mulai ini berkisahkan aku, kesendirianku dan perjalanan kami. sungguh nikmat perasaan yang aku dapat di awal perjalanan kami, aku bebas, aku lepas, aku tak terkekang apapun, tak ada yang terganggu dengan tingkah ku, tak ada yang merugi karena sikapku, bahkan tak ada yang tersinggung karena kasarnya ucapanku. apalagi alasannya kalau bukan karena hanya ada kami -aku dan kesendirianku- yang berjalan di sepanjang perjalanan ini. -tak ada orang lain diantara kami. hingga rasa sepi muncul, merambat melalui hati ku, menjalar di sekujur tubuhku, dan mendekapku.

sungguh tak enak rasanya. -rasa sepi yang mampu membunuhku. nikmat yang ku peroleh sebelumnya pun, tak sebanding dengan sepi yang kuhadapi, ia lebih besar. ia monster yang siap menerkamku kapan saja ia mau, memberhentikanku hingga aku tak mampu meninggalkan jejak-jejak baru untuk perjalananku. ratusan -ah bahkan ribuan- senja telah begitu saja terlewati, namun tak ada yang membekas sama sekali. -ini juga karena sepi. satu pelangi, dua pelangi, tiga pelangi, semuanya hambar, padanan cahayanya menjadi gersang dan kosong. -apalagi alasannya kalo bukan karena sepi. sepi itu memuakkan, ia menjajah hatiku, membuatnya tak mau bekerja sinergis dengan pikiranku, menyebalkan sekali bukan?
aku lupa suatu hal. -aku punya bekal perjalanan yang hanya boleh kubuka dan kugunakan ketika ku sangat membutuhkannya.
"nak, perjalanan ini tak mudah. ia akan begitu panjang dan melelahkan, teruslah berjalan, teguhkan hatimu, dan tetaplah percaya dengan tuhanmu, tuhan kita, bersama kesulitan akan selalu ada kemudahan, tidak setelahnya ataupun sebelumnya".-itu salah satu bekal dari ibuku. 
setelah mengalaminya aku -mau tak mau- mempercayai bahwa memang perjalanan ini tak semudah yang ku bayangkan. selalu ada ranting-ranting yang menghambat jalanku, mungkin sekarang baru giliran sepi yang menghadangku lalu entah apa selanjutnya. sepi ini musuh pertamaku, memberi turbulensi di pesawat yang membawaku di perjalanan ini yang pada akhirnya aku biarkan saja tubuhku tersiksa, membiarkannya terbiasa dengan derita. setelah ini, pasti ada kenikmatan lain. -aku yakin itu
dan tak terbayangkan sebelumnya, setelah mampu melewati sakit -sepi-. aku tersenyum bahagia, lega. mungkin ini yang disebut fenomena di ujung kemacetan dalam perjalanan. -teori yang kubuat sendiri haha
perjalananku macet karena "sepi" membuat mesin perjalanan ku mandek, dengan sabar aku biarkan pikiran, perasaan dan ragaku dipermainkan sepi. -disini terjadi kemacetan dalam perjalananku, macet panjang yang entahlah aku tak tahu dimana ujungnya. waktu terkikis begitu lama -itu yang kurasa- hingga sampailah di titik aku terlepas dari kemacetan parah perjalananku. dan lihatlah disana? -mungkin bisa kau tebak bagaimana rupa jalanan setelah kau melewati kemacetan perjalanan. ya, yang kudapatkan adalah  lega, kosong, luas, tak ada lagi tabrakan atau benturan antara pikiran, hati dan raga, dan itu menyenangkan. -aku rasa sebanding dengan tumpukan lelah yang telah dibangun oleh sepi, energi yang habis dikuras sepi. seketika aku tersadarkan oleh kenyataan bahwa disitulah  perjalanan mengajarkanku tentang bersabar menghadapi kemacetan, merekayasa diri melewati kesusahan, karena setelah mampu kita lalui, jalanan terbuka lebar, bahkan lebih cerah. -walaupun ku bukan seorang filsuf tapi selanjutnya, biarlah ini aku sebut sebagai filosopi kemacetan perjalanan agar setiap kali ku bertemu kesulitan yang hampir sama, aku bisa berpikir dengan tenang karena aku ingat filosofi ini.

-setelahnya- aku pun menjejaki perjalananku -kembali-.
oh iya, aku jadi ingin berbagi kenyataan: dalam meniti perjalananku ini sebenarnya aku tak jarang bertemu dengan keragu-raguan dalam pilihanku, keragu-raguan itu hadir dalam wujud kebingungan; kapan aku harus belok kiri, kapan aku banting setir ke kanan, ataukah harus tetap lurus melaju. hingga lama-kelamaan secara tak sadar -tahu-tahu- aku tersesat dalam perjalanan ini -sesat yang membingungkan-. aku tersesat di tempat yang begitu asing. disana. udaranya sangat sejuk, pepohonan tertata rapi: membentuk terowongan, cahaya matahari menerobos masuk kedalamnya, membuat tempat ini tak gelap sama sekali dan tak terang  menyilaukan. tambahan suara syahdu kicauan burung yang saling berbalas, menambah khidmatnya ketenangan yang dihadirkan.

tempat ini begitu menenangkan, tapi sayangnya kenyataan bahwa aku sedang tersesat tak membuatku menjadi tenang, aku malah gelisah.-aku gelisah di tempat yang sangat menenangkan.


-to be continued-
------------------------------------------------------------------------------------------------------------

-next episode-

aku mantapkan langkahku -kembali- di perjalanan ini, dan yang paling kusenangi di perjalanan ini adalah disana aku menangkap pemandangan-pemandangan baru yang bisa ku simpan sebagai kepingan kenangan perjalanan.

oh ya, terkadang aku juga bertemu beberapa orang di persimpangan jalan, walaupun hanya untuk berpisah di persimpangan yang lain. tapi ku nikmati perjumpaan kami, karena dari situ aku mulai tahu arti berbagi. begitu luruhnya jiwa ini ketika membagi, betapa nikmatnya hati ini ketika dibagi. terkadang pula hal itu -perjumpaan kami- membuat alur kisahnya berubah, sekarang menjadi aku, mereka dan perjalanan kami, bukan lagi tentang -hanya- perjalanan kami -aku dan kesendirianku- . 
ya, sekarang aku memasuki fase perjalanan aku dan mereka. di fase ini perjalanan mengajarkanku banyak hal baru melalui mereka, tingkah mereka, cara berpikir mereka, sudut yang diambil mereka ketika memandang, dan nafas inspirasi yang ku dapatkan dari mereka.
-to be continued-

gambar disini,  sini
Powered by Blogger.
 
;